Edisi mingguan dari sudut paling ramai di desaSenin, 14 September 2026 / VOL. 08
CERITA WARKOPDES.COM

Tanam Padi Jajar Legowo: Kalau Panen Melimpah Ya Bersyukur, Kalau Zonk Ya Harus Legowo!

Tanam Padi Jajar Legowo: Kalau Panen Melimpah Ya Bersyukur, Kalau Zonk Ya Harus Legowo!

Pagi itu di Warung Kopi Pak Mat, udara masih diselimuti embun dan aroma kopi tubruk. Namun, kedamaian pagi langsung pecah ketika Kang Jaka datang sambil membawa lembaran kertas berisi garis-garis aneh. Mukanya tampak seperti profesor yang baru saja menemukan teori bumi berbentuk donat.

“Mbah Wir, Pak Mat! Panggil semua orang! Hari ini kita ganti sistem tanam padi. Tidak usah pakai gaya lama, kita pakai Sistem Jajar Legowo!” teriak Jaka antusias sambil menggebrak meja kayu warung.

Mbah Wiryo yang sedang mengunyah ketan gurih hampir saja tersedak. “Jajar Legowo? Itu sistem tanam padi apa judul lagu campursari, Jak?”

“Halah, Mbah ini kurang update!” balas Jaka sok ahli. “Jajar Legowo itu artinya sistem tanam berbaris-baris dengan menyisakan lorong kosong. Jadi tiap dua atau empat baris, diberi jarak kosong yang agak lebar. Katanya sih, biar padinya makin banyak dapat sinar matahari dan angin segar. Padi juga butuh healing, Mbah!”

Pak Mat yang sedang menuang air panas ikut nimbrung. “Oalah… jadi padinya dipisah-pisah gitu biar tidak berkerumun kayak penonton konsert?”

“Betul, Pak Mat! Nah, nama Legowo itu konon diambil dari bahasa Jawa: lego artinya lega, dan dowo artinya panjang. Jadi lorongnya lega dan panjang. Tapi…” Kang Jaka mendadak memelankan suaranya sambil menyeringai tipis, “…menurut pengalaman saya, ada arti keduanya.”

“Apa itu?” tanya Mbah Wiryo penasaran.

“Arti keduanya: kalau nanti padinya sukses panen melimpah, ya alhamdulillah. Tapi kalau padinya malah habis dimakan tikus atau diserang walang sangit… ya kita harus Legowo! Alias lapang dada, ikhlas, dan jangan nangis di pojokan sawah!”

Sontak seisi warung tawa berderai. Mbah Wiryo sampai menepuk paha Kang Jaka.

“Asem kamu, Jak! Berarti namanya itu doa antisipasi stres ya?” tawa Mbah Wiryo. “Tapi masuk akal juga. Ditanam rapat-rapat salah, ditanam ada lorongnya juga tetap tergantung nasib dan perawatan. Yang penting itu niatnya.”

“Nah, makanya Mbah,” tambah Jaka sambil menyantap ketan hangat. “Sistem Jajar Legowo ini mengajarkan kita dua hal penting dalam hidup: pertama, kerja keras pakai teknologi dan perhitungan yang benar. Kedua, siap mental! Kalau hasilnya tidak sesuai ekspektasi, jangan menyalahkan cuaca, jangan menyalahkan pupuk, apalagi menyalahkan warung Pak Mat karena kopinya kurang manis.”

“Loh, kok malah warungku dibawa-bawa!” protes Pak Mat sambil tertawa.

Matahari mulai meninggi di ufuk timur, memancarkan sinar emas di atas hamparan sawah Desa Sukamaju. Para petani pun berdiri dari bangku kayu warung, menyapu sisa-sisa kelapa parut di bibir, dan bersiap melangkah ke lumpur.

Satu hal yang pasti: entah pakai sistem tegel, jajar legowo, atau sistem pasrah diri, semangat mereka tak pernah surut. Karena selama masih ada kopi pekat dan ketan gurih di Warung Pak Mat, hati para petani akan selalu legowo menghadapi musim panen apa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *